BaliWiki -Sosok Nyai Ontosoroh dalam karya klasik Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer, dihadirkan dalam sebuah pertunjukan teater musikal, bertajuk Ontosoroh.
Pertunjukan serangkaian acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF)2014 itu, menampilkan kolaborasi apik antara penari sekaligus koreografer Australia, Ade Suharto dan vokalis juga komposer ternama Peni Candra Rini.
Halaman depan museum Arma, Ubud, Gianyar, malam itu, Sabtu (4/10/2014) tampak begitu hening, hanya terdengar sayup-sayup seorang perempuan menembang jawa. Dalam balutan kain hitam, Rini perlahan melangkah di panggung, sembari tetap melantunkan senandung yang mengesankan kesunyian seorang perempuan. Di tangannya, lampu bercahaya remang menyinari wajahnya yang khusuk.
Di belakangnya, Ade Suharto menari begitu bebas, tubuhnya meliuk tegas, selaras suara musik instrumen, perkusi, gamelan, dan violin.
Setiap irama dan tempo tampak terjaga, detil permainan diperhitungkan, hingga pengaturan nyala dan komposisi lighting diperhatikan.
Rini tidak banyak menampilkan gerak, melainkan ia total mengedepankan kekuatan vokal. Kedalaman penghayatan Rini akan setiap kata yang disenandungkannya, seakan begitu hidup membawa penonton pada suasana kehidupan sosok Nyai Ontosoroh bertahun-tahun lampau.
Sementara Ade Suharto, permainan gerak tubuh serta mimik wajahnya, seakan menyimpan misteri. Tatapannya tajam dan dalam. Namun, pada pertengahan adegan, menuju klimaks, tiba-tiba Ade Suharto berteriak, seperti sedang melampiaskan sesuatu yang lama terpendam dalam dirinya.
Jari-jari dan pergelangan tangannyapun bergerak semakin cepat, mengikuti tempo violin yang dimainkan Prisha. Begitu juga iringan gamelan dan perkusi.
Rini, tembangannya yang semula mengalun syahdu, tiba-tiba menghentak, seperti menyampaikan sebuah perlawanan.
Para musisi terbaik Indonesia yang juga turut dalam pertunjukan itu di antaranya Plenthe memainkan perkusi, Iswanto memegang gamelan, dan Prisha Sebastian menyumbangkan kepiawaiannya bermain violin.
Ontosoroh yang disiapkan hampir dua tahun lamanya itu menyuarakan kisah tokoh perempuan pemberani, Nyai Ontosoroh dalam karya sastra penulis Pramoedya Ananta Toer yang sempat dinominasikan sebagai pemenang Nobel Sastra.
Penampilan berdurasi sekitar satu jam itu berupaya mengungkap dan mengeksplorasi kekuatan perempuan serta perjuangan mereka dalam meraih kebebasan.
Para penonton yang jumlahnya mencapai ratusan orang, seakan tersihir dengan penampilan mereka. Bahkan ketika ada yang berbicara saat penampilan berlangsung, penonton di sebelahnya langsung menegur.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty menyampaikan pementasan tersebut merupakan sebuah karya seni visioner yang menandakan kerjasama baik, berkelanjutan, dan penuh makna antara seniman Indonesia dan Australia.
Selain Ontosoroh, festival tahunan UWRF, juga dimaknai dengan penampilan penyanyi Alphamama, hingga Ben Walsh yang memainkan kendang bersama anak-anak muda Bali. Berbagai diskusi, workshop, pemutaran film, dan pembacaan karya juga digelar selama festival berlangsung.
Sumber: TribunBali
Pertunjukan serangkaian acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF)2014 itu, menampilkan kolaborasi apik antara penari sekaligus koreografer Australia, Ade Suharto dan vokalis juga komposer ternama Peni Candra Rini.
Halaman depan museum Arma, Ubud, Gianyar, malam itu, Sabtu (4/10/2014) tampak begitu hening, hanya terdengar sayup-sayup seorang perempuan menembang jawa. Dalam balutan kain hitam, Rini perlahan melangkah di panggung, sembari tetap melantunkan senandung yang mengesankan kesunyian seorang perempuan. Di tangannya, lampu bercahaya remang menyinari wajahnya yang khusuk.
Di belakangnya, Ade Suharto menari begitu bebas, tubuhnya meliuk tegas, selaras suara musik instrumen, perkusi, gamelan, dan violin.
Setiap irama dan tempo tampak terjaga, detil permainan diperhitungkan, hingga pengaturan nyala dan komposisi lighting diperhatikan.
Rini tidak banyak menampilkan gerak, melainkan ia total mengedepankan kekuatan vokal. Kedalaman penghayatan Rini akan setiap kata yang disenandungkannya, seakan begitu hidup membawa penonton pada suasana kehidupan sosok Nyai Ontosoroh bertahun-tahun lampau.
Sementara Ade Suharto, permainan gerak tubuh serta mimik wajahnya, seakan menyimpan misteri. Tatapannya tajam dan dalam. Namun, pada pertengahan adegan, menuju klimaks, tiba-tiba Ade Suharto berteriak, seperti sedang melampiaskan sesuatu yang lama terpendam dalam dirinya.
Jari-jari dan pergelangan tangannyapun bergerak semakin cepat, mengikuti tempo violin yang dimainkan Prisha. Begitu juga iringan gamelan dan perkusi.
Rini, tembangannya yang semula mengalun syahdu, tiba-tiba menghentak, seperti menyampaikan sebuah perlawanan.
Para musisi terbaik Indonesia yang juga turut dalam pertunjukan itu di antaranya Plenthe memainkan perkusi, Iswanto memegang gamelan, dan Prisha Sebastian menyumbangkan kepiawaiannya bermain violin.
Ontosoroh yang disiapkan hampir dua tahun lamanya itu menyuarakan kisah tokoh perempuan pemberani, Nyai Ontosoroh dalam karya sastra penulis Pramoedya Ananta Toer yang sempat dinominasikan sebagai pemenang Nobel Sastra.
Penampilan berdurasi sekitar satu jam itu berupaya mengungkap dan mengeksplorasi kekuatan perempuan serta perjuangan mereka dalam meraih kebebasan.
Para penonton yang jumlahnya mencapai ratusan orang, seakan tersihir dengan penampilan mereka. Bahkan ketika ada yang berbicara saat penampilan berlangsung, penonton di sebelahnya langsung menegur.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty menyampaikan pementasan tersebut merupakan sebuah karya seni visioner yang menandakan kerjasama baik, berkelanjutan, dan penuh makna antara seniman Indonesia dan Australia.
Selain Ontosoroh, festival tahunan UWRF, juga dimaknai dengan penampilan penyanyi Alphamama, hingga Ben Walsh yang memainkan kendang bersama anak-anak muda Bali. Berbagai diskusi, workshop, pemutaran film, dan pembacaan karya juga digelar selama festival berlangsung.
Sumber: TribunBali

0 comments:
Post a Comment