BaliWiki - Sejumlah pengunjung di monumen Legian tampak ramai seperti biasanya, Rabu (8/10/2014). Meski sejumlah penjaga pantai yang enggan disebutkan namanya, menyebutkan gerhana bulan tidak akan tampak karena mendung.
Namun, selang sekitar pukul 19.40 Wita, bulan tampak bersinar dan tak berapa lama bulan purnama pun terjadi. Beberapa pengunjung di monumen Legian tak menyadari gerhana bulan sedang berlangsung.
Hanya saja, perempuan berbaju merah muda mengabadikan gambar ke arah bulan dan disusul oleh wisarawan yang saat itu memperhatikan perempuan tersebut.
"Saya tadi lihat di DP Blackberry dan facebook teman-teman kalau ada purnama. Sebenarnya tadi sengaja mau cari. Momennya dapat pas di sini (Monumen Legian)," kata Lely, asal Jakarta, sambil tersenyum.
Dalam waktu bersamaan, di Pura Dalem Kahyangan Desa Pakraman Tuban, sejumlah pemuda melakukan perang api di halaman pura.
Puluhan pemuda itu terlihat mengenakan kaos hitam, lengkap dengan saput dan penutup kain di kepalanya, berjalan menuju tumpukan sabut kepala. Di tumpukan sabut kelapa, api menjalar dan membakar sabut tersebut. Satu per satu pemuda mengambil dua sabut di tangannya.
Mereka berjalan di tengah halaman dengan cara berbaris membentuk lingkaran. Lalu aba-aba terdengar," Ayo, ayo,". Sontak pria ini memukulkan sabut kelapa di atas kepala hingga menimbulkan suara keras. "Pletak, pletaak, pletaak!!".
Sementara itu, beberapa warga yang mengenakan pakaian adat warna putih, langsung menghindari kobaran api dari sabut kelapa, yang terbang ke arahnya.
Ada yang merapatkan badannya menghadap tembok sambil menutup mata dan hidung menggunakan tangan.
Mereka tak tahan dengan asap yang dihasilkan dari pukulan sabut kelapa para pemuda itu. "Aduh gak bisa lihat. Perih mataku," cletuk pria mengenakan pakaian adat warna putih. Ritual ini pun berakhir pukul 22.15 Wita.
Menurut Gusti Malianus, warga Banjar Tuban, yang akan mengikuti upacara sembahyang di pura tersebut, mengungkapkan perang api merupakan bagian dari upacara di bulan purnama. Ritual ini dinamakan purnama sasih kapat yakni upacara purnama bulan ke empat.
"Di Bali cuma ada dua ritual perang api. Karangasem dan di sini (Pura Dalem Kahyangan Desa Pakraman Tuban). Bedanya, di Karangasem pakai daun kelapa. Kalau di sini pakai sabut kelapa kering," ujar Gusti.
Usai perang api ini, warga melakukan upacara sembahyang hingga pukul 02.00 wita dini.
Sumber: TribunBali
Namun, selang sekitar pukul 19.40 Wita, bulan tampak bersinar dan tak berapa lama bulan purnama pun terjadi. Beberapa pengunjung di monumen Legian tak menyadari gerhana bulan sedang berlangsung.
Hanya saja, perempuan berbaju merah muda mengabadikan gambar ke arah bulan dan disusul oleh wisarawan yang saat itu memperhatikan perempuan tersebut.
"Saya tadi lihat di DP Blackberry dan facebook teman-teman kalau ada purnama. Sebenarnya tadi sengaja mau cari. Momennya dapat pas di sini (Monumen Legian)," kata Lely, asal Jakarta, sambil tersenyum.
Dalam waktu bersamaan, di Pura Dalem Kahyangan Desa Pakraman Tuban, sejumlah pemuda melakukan perang api di halaman pura.
Puluhan pemuda itu terlihat mengenakan kaos hitam, lengkap dengan saput dan penutup kain di kepalanya, berjalan menuju tumpukan sabut kepala. Di tumpukan sabut kelapa, api menjalar dan membakar sabut tersebut. Satu per satu pemuda mengambil dua sabut di tangannya.
Mereka berjalan di tengah halaman dengan cara berbaris membentuk lingkaran. Lalu aba-aba terdengar," Ayo, ayo,". Sontak pria ini memukulkan sabut kelapa di atas kepala hingga menimbulkan suara keras. "Pletak, pletaak, pletaak!!".
Sementara itu, beberapa warga yang mengenakan pakaian adat warna putih, langsung menghindari kobaran api dari sabut kelapa, yang terbang ke arahnya.
Ada yang merapatkan badannya menghadap tembok sambil menutup mata dan hidung menggunakan tangan.
Mereka tak tahan dengan asap yang dihasilkan dari pukulan sabut kelapa para pemuda itu. "Aduh gak bisa lihat. Perih mataku," cletuk pria mengenakan pakaian adat warna putih. Ritual ini pun berakhir pukul 22.15 Wita.
Menurut Gusti Malianus, warga Banjar Tuban, yang akan mengikuti upacara sembahyang di pura tersebut, mengungkapkan perang api merupakan bagian dari upacara di bulan purnama. Ritual ini dinamakan purnama sasih kapat yakni upacara purnama bulan ke empat.
"Di Bali cuma ada dua ritual perang api. Karangasem dan di sini (Pura Dalem Kahyangan Desa Pakraman Tuban). Bedanya, di Karangasem pakai daun kelapa. Kalau di sini pakai sabut kelapa kering," ujar Gusti.
Usai perang api ini, warga melakukan upacara sembahyang hingga pukul 02.00 wita dini.
Sumber: TribunBali

0 comments:
Post a Comment