Budaya Bali - Upacara pelebon atau ngaben jenazah, Anak Agung Gede Oka Kaleran berlangsung megah. Ribuan turis lokal maupun asing serta warga Desa Ubud, Gianyar memenuhi puri Kaleran Peliatan Ubud untuk mengarak jenazah menuju Setra Dalem Puri, Desa Tebesaya, Selasa (21/10/2014).
Dalam prosesi tersebut, empat banjar ikut serta dan bahu-membahu mengusung bade atau tempat jenazah dengan setinggi sekitar 20 meter secara sukarela. Keempat banjar tersebut di antaranya Banjar Pande, Teruna, Tengah Kangin dan Tengah Kauh.
Mendiang Anak Agung Gede Oka Kaleran, merupakan pendiri dan pemimpin Sukawati Agung, Kaleran terkenal sebagai seorang yang senang bersosialisasi bersama warga sekitar. Semasa Hidup Kaleran sering mengirim seniman-seniman Bali keluar negeri memainkan gong pliatan.
“Setiap kali ada pertunjukkan di luar negeri seperti di Jepang, Australia dan Amerika suami saya selalu dihubungi,” ujar istri mendiang Kaleran, Cok Istri Rai.
Persiapan proses ngaben memakan waktu lima bulan, karena selain mencari hari yang tepat, acara ini memang benar-benar dipersiapkan secara matang dan sempurna. “Kami dari pihak keluarga ingin acara ini lancar dan sangat sempurna," sebut adik mendiang Kaleran, Anak Agung Raka Ambara.
Harapan dari pihak keluarga, semoga mendiang Kaleran mendapatkan tempat sesuai dharma bakti dan menemukan kesempurnaan. Jenazah Anak Agung Gede Oka Kaleran yang meninggal pada 4 Juli 2014 itu setelah usai pembakaran , abunya akan dilarung di Pantai Matahari Terbit, Selasa (21/10) sore.
Sebagaimana diketahui, Pelebon adalah upacara pembakaran jenazah bagi umat Hindu. Upacara itu juga sering disebut dengan ngaben atau melepas roh. Bagi umat Hindu, upacara ini memiliki peran penting untuk menghormati leluhur.
Ini dipercaya akan mendapatkan tempat yang baik di alamnya, juga kelangsungan hidup di masa mendatang. Sebab menurut kepercayaan mereka, kematian merupakan berkah dari Tuhan yang harus disyukuri. Kematian dianggap bukan akhir, melainkan awal untuk menuju proses reinkarnasi.
Sumber: TribunBali
Dalam prosesi tersebut, empat banjar ikut serta dan bahu-membahu mengusung bade atau tempat jenazah dengan setinggi sekitar 20 meter secara sukarela. Keempat banjar tersebut di antaranya Banjar Pande, Teruna, Tengah Kangin dan Tengah Kauh.
Mendiang Anak Agung Gede Oka Kaleran, merupakan pendiri dan pemimpin Sukawati Agung, Kaleran terkenal sebagai seorang yang senang bersosialisasi bersama warga sekitar. Semasa Hidup Kaleran sering mengirim seniman-seniman Bali keluar negeri memainkan gong pliatan.
“Setiap kali ada pertunjukkan di luar negeri seperti di Jepang, Australia dan Amerika suami saya selalu dihubungi,” ujar istri mendiang Kaleran, Cok Istri Rai.
Persiapan proses ngaben memakan waktu lima bulan, karena selain mencari hari yang tepat, acara ini memang benar-benar dipersiapkan secara matang dan sempurna. “Kami dari pihak keluarga ingin acara ini lancar dan sangat sempurna," sebut adik mendiang Kaleran, Anak Agung Raka Ambara.
Harapan dari pihak keluarga, semoga mendiang Kaleran mendapatkan tempat sesuai dharma bakti dan menemukan kesempurnaan. Jenazah Anak Agung Gede Oka Kaleran yang meninggal pada 4 Juli 2014 itu setelah usai pembakaran , abunya akan dilarung di Pantai Matahari Terbit, Selasa (21/10) sore.
Sebagaimana diketahui, Pelebon adalah upacara pembakaran jenazah bagi umat Hindu. Upacara itu juga sering disebut dengan ngaben atau melepas roh. Bagi umat Hindu, upacara ini memiliki peran penting untuk menghormati leluhur.
Ini dipercaya akan mendapatkan tempat yang baik di alamnya, juga kelangsungan hidup di masa mendatang. Sebab menurut kepercayaan mereka, kematian merupakan berkah dari Tuhan yang harus disyukuri. Kematian dianggap bukan akhir, melainkan awal untuk menuju proses reinkarnasi.
Sumber: TribunBali

0 comments:
Post a Comment