Baliwiki - Masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) beruntung bisa menyaksikan peristiwa gerhana bulan total (GBT), Rabu (8/10/2014) malam ini karena cuaca cerah.
Pantauan di lokasi ratusan warga di Kota Borong, Manggarai Timur, Flores, keluar rumah menyaksikan peristiwa langka tersebut. Bagi masyarakat Manggarai, gerhana bulan erat dengan tradisi masa lalu.
Salah seorang warga, Fransiskus Ndolu mengatakan, nenek moyang penduduk Manggarai apabila melihat gerhana bulan, mereka membunyikan gong dan gendang sebab dianggap tanda-tanda alam yang membawa rahmat.
Namun, tradisi tersebut saat ini sudah hilang. "Sekarang tradisi membunyikan gong dan gendang tidak dilakukan apabila melihat Gerhana Bulan," ujar Ndolu.
Informasi yang diterima ratusan warga di Kampung Mok, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur juga antusias keluar rumah untuk menyaksikan gerhana bulan.
Salah seorang warga Kampung Mok, Ursula Manggung menginformasikan, warga terkejut dengan perubahan bulan di langit sejak pukul 19.30 WITA. Bulan pelan-pelan berubah warna menjadi kemerahan.
Seperti diberitakan sebelumnya, fase gerhana bulan total terjadi pada pukul 17.42-18.42 WIB atau 18.42-19.42 WITA. Peristiwa tersebut seharusnya bisa disaksikan di sebagian besar wilayah Indonesia jika cuaca cerah.
Sementara itu, Pertama kali sejak 3 tahun terakhir (10 Desember 2011) gerhana bulan Rabu(8/10/2014) malam terjadi lagi antara jam 18.42 waktu Tokyo sampai dengan sekitar jam 20:50 dan dinikmati banyak warga Jepang sebagai berkah, hadiah, atas penerimaan Nobel bagi tiga orang Jepang (Shuji Nakamura, warga negara Amerika, Isamu Akasaki dan Hiroshi Amano), yang diumumkan kemarin.
"Kami senang sekali gerhana bulan ini karena rasanya juga sebagai hadiah kebahagiaan kami tiga orang Jepang berhasil memperoleh Nobel Fisika," papar Takahashi yang dijumpai di sekitar Asakusa Tokyo oleh Tribunnews.com malam ini.
Takahashi bersama keluarganya sengaja keluar rumah bersama, makan malam bersama, untuk melihat gerhana bulan dari luar juga bersama masyarakat Jepang lain.
Ratusan orang berkumpul di Asakusa dengan latar depan tower Sky Tree menyaksikan Gerhana Bulan dengan indahnya karena awan sedikit sehingga jelas terlihat.
Sumber: TribunBali
Pantauan di lokasi ratusan warga di Kota Borong, Manggarai Timur, Flores, keluar rumah menyaksikan peristiwa langka tersebut. Bagi masyarakat Manggarai, gerhana bulan erat dengan tradisi masa lalu.
Salah seorang warga, Fransiskus Ndolu mengatakan, nenek moyang penduduk Manggarai apabila melihat gerhana bulan, mereka membunyikan gong dan gendang sebab dianggap tanda-tanda alam yang membawa rahmat.
Namun, tradisi tersebut saat ini sudah hilang. "Sekarang tradisi membunyikan gong dan gendang tidak dilakukan apabila melihat Gerhana Bulan," ujar Ndolu.
Informasi yang diterima ratusan warga di Kampung Mok, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur juga antusias keluar rumah untuk menyaksikan gerhana bulan.
Salah seorang warga Kampung Mok, Ursula Manggung menginformasikan, warga terkejut dengan perubahan bulan di langit sejak pukul 19.30 WITA. Bulan pelan-pelan berubah warna menjadi kemerahan.
Seperti diberitakan sebelumnya, fase gerhana bulan total terjadi pada pukul 17.42-18.42 WIB atau 18.42-19.42 WITA. Peristiwa tersebut seharusnya bisa disaksikan di sebagian besar wilayah Indonesia jika cuaca cerah.
Sementara itu, Pertama kali sejak 3 tahun terakhir (10 Desember 2011) gerhana bulan Rabu(8/10/2014) malam terjadi lagi antara jam 18.42 waktu Tokyo sampai dengan sekitar jam 20:50 dan dinikmati banyak warga Jepang sebagai berkah, hadiah, atas penerimaan Nobel bagi tiga orang Jepang (Shuji Nakamura, warga negara Amerika, Isamu Akasaki dan Hiroshi Amano), yang diumumkan kemarin.
"Kami senang sekali gerhana bulan ini karena rasanya juga sebagai hadiah kebahagiaan kami tiga orang Jepang berhasil memperoleh Nobel Fisika," papar Takahashi yang dijumpai di sekitar Asakusa Tokyo oleh Tribunnews.com malam ini.
Takahashi bersama keluarganya sengaja keluar rumah bersama, makan malam bersama, untuk melihat gerhana bulan dari luar juga bersama masyarakat Jepang lain.
Ratusan orang berkumpul di Asakusa dengan latar depan tower Sky Tree menyaksikan Gerhana Bulan dengan indahnya karena awan sedikit sehingga jelas terlihat.
Sumber: TribunBali

0 comments:
Post a Comment