BaliWiki - Maju dan berkembangnya Provinsi Bali ternyata tidak diimbangi dengan sejahteranya warga setempat. Seperti yang terlihat dari pasangan Nyoman Sumrana (80) dan Wayan Sari (70).
Kedua warga desa Tukadsumaga, Kecamatan Seririt, Buleleng ini, tinggal di sebuah rumah di dataran lebih tinggi, dengan jarak 200 meter dari rumah tetangga terdekat. Dari pantauan Tribun Bali, rumah keduanya berukuran sekitar enam kali empat meter. Berdinding anyaman bambu yang telah terkoyak, beratap daun kelapa kering dan beralas tanah. Di dalam rumah itu terdapat dua ranjang. Tidak ada ruangan lain.
Sumrana mengaku, setiap malam dirinya bersama istri merasakan kedinginan ketika tidur. Sebab, dinding anyaman bambu tidak mampu menahan angin malam yang masuk ke dalam rumahnya.
Selain untuk tidur, pasangan itu juga mempergunakan rumahnya untuk memasak di tempat yang rangkap dengan tempat tidur.
Setiap harinya, Sumrana hanya bisa menyabit rumput (Ngadas) seadanya untuk makan dua sapi yang dipeliharanya. Namun, kedua sapi itu milik orang lain yang dititipkan kepadanya untuk dipelihara.
Hasil dari ngadas itulah dirinya sekarang memiliki seekor anakan sapi. Selain itu, ia juga memiliki seekor babi.
Sedangkan kedua anaknya sudah lama bekerja di Denpasar. Keduanya tidak pernah pulang. Bahkan sekadar berkirim kabar atau berkirim uang juga sama sekali tidak pernah.
Pasangan kakek-nenek ini pun hanya bisa pasrah meratapi nasib jika tidak ada yang mempedulikannya. Dikatakan, untuk makanan sehari-hari, ia mengandalkan tujuh kilogram beras pembagian dari raskin.
Menurutnya, ia harus menghemat persediaan berasnya agar cukup untuk makan satu bulan. Lauknya dia beli dari menjual hasil ternaknya.
"Kalau tidak ada uang untuk makan saya jual sapi. Dulu punya dua anakan sapi hasil ngadas. Sekarang tinggal satu. Kalau sapi sama babi sudah habis gak bisa makan," kata Sumrana.
Sumber: TribunBali
Kedua warga desa Tukadsumaga, Kecamatan Seririt, Buleleng ini, tinggal di sebuah rumah di dataran lebih tinggi, dengan jarak 200 meter dari rumah tetangga terdekat. Dari pantauan Tribun Bali, rumah keduanya berukuran sekitar enam kali empat meter. Berdinding anyaman bambu yang telah terkoyak, beratap daun kelapa kering dan beralas tanah. Di dalam rumah itu terdapat dua ranjang. Tidak ada ruangan lain.
Sumrana mengaku, setiap malam dirinya bersama istri merasakan kedinginan ketika tidur. Sebab, dinding anyaman bambu tidak mampu menahan angin malam yang masuk ke dalam rumahnya.
Selain untuk tidur, pasangan itu juga mempergunakan rumahnya untuk memasak di tempat yang rangkap dengan tempat tidur.
Setiap harinya, Sumrana hanya bisa menyabit rumput (Ngadas) seadanya untuk makan dua sapi yang dipeliharanya. Namun, kedua sapi itu milik orang lain yang dititipkan kepadanya untuk dipelihara.
Hasil dari ngadas itulah dirinya sekarang memiliki seekor anakan sapi. Selain itu, ia juga memiliki seekor babi.
Sedangkan kedua anaknya sudah lama bekerja di Denpasar. Keduanya tidak pernah pulang. Bahkan sekadar berkirim kabar atau berkirim uang juga sama sekali tidak pernah.
Pasangan kakek-nenek ini pun hanya bisa pasrah meratapi nasib jika tidak ada yang mempedulikannya. Dikatakan, untuk makanan sehari-hari, ia mengandalkan tujuh kilogram beras pembagian dari raskin.
Menurutnya, ia harus menghemat persediaan berasnya agar cukup untuk makan satu bulan. Lauknya dia beli dari menjual hasil ternaknya.
"Kalau tidak ada uang untuk makan saya jual sapi. Dulu punya dua anakan sapi hasil ngadas. Sekarang tinggal satu. Kalau sapi sama babi sudah habis gak bisa makan," kata Sumrana.
Sumber: TribunBali

0 comments:
Post a Comment